Keteguhan Iman Sang Ksatria Berkuda
22.15
Add Comment
Ibnu
al-Jauzi menceritakan sebuah kisah yang di dapat dari Abu Ali al-Barbari, bahwa
sesungguhnya pernah ada tiga orang
bersaudara dari negara syam yang berangkat ke medan perang, mereka adalah para
kesatria penunggang kuda yang pemberani. Namun pada akhirnya tertangkap oleh raja negara Rum (Romawi)
dan dijadikan tawanan.
Raja
Rum mengatakan kepada mereka:
Saya
akan membuatkan kalian sebuah istana dan menikahkan kalian dengan putri-putriku,
akan tetapi sebelum itu, kalian harus masuk agama Nasrani terlebih dahulu.
Mendengar
tawaran itu, mereka kompak menolaknya dan menyebut-nyebut nama Nabi Muhammad
SAW sebagai tanda ketaatan dan keimanan mereka pada agama Islam.
Menyadari
tawaran yang diberikan ditolak mentah-mentah oleh ketiga pemuda itu, raja Rum merasa
emosi dan memerintahkan kepada para pembantunya untuk menyiapkan sebuah bejana besar
yang diisi dengan minyak zaitun lalu memanaskannya selama tiga hari tiga malam hingga
mendidih.
Bejana
mendidih itu setiap hari ditunjukkan pada ketiga pemuda tadi, disertai dengan ancaman
agar mereka mau masuk agama nasrani.
Apabila tidak mau, maka mereka bertiga akan dimasukkan kedalam bejana itu.
Karena
ketiga bersaudara itu bersikukuh tetap pada ajaran agama Islam, akhirnya raja Rum pun hilang kesabaran dan mulai
melaksanakan ancamannya. Saudara tertua dari mereka terlebih dahulu dilemparkan
kedalam bejana, disusul kemudian saudara keduanya.
Kini
tersisa saudara termuda yang belum dilemparkan, melihat keadaan ini, sang raja
berinisiatif untuk memfitnahnya dengan segala cara agar mau untuk berpindah agama
dan memeluk agama Nasrani.
Menangkap
keinginan dari sang raja, berdirilah salah seorang pembantu raja Rum untuk menawarkan
sebuah rencana agar pemuda itu mau untuk berpindah keyakinan.
Orang
tersebut berkata:
Wahai raja,
saya bisa membujuk pemuda ini untuk masuk agama Nasrani.
Raja
Rum bertanya:
Bagaimana
caramu melakukannya?
Orang
itu berkata:
Kelemahan
orang Arab adalah paling tidak tahan jika melihat wanita. Sedangkan menurut saya,
tidak ada seorangpun yang lebih cantik di negara Rum ini kecuali anak saya.
Maka dari itu, saya meminta izin kepada raja agar diberi waktu untuk melakukan
sebuah rencana, yakni dengan cara menaruh mereka berdua (pemuda dan anak
gadisnya) di sebuah kamar, pasti pemuda ini akan tertari untuk melakukan
sesuatu dengan anak gadis saya yang cantik ini, setelah itu biar anak gadis
saya merayu pemuda itu agar mau berpindah ke agama Nasrani.
Setelah
mendengar penjelasan pembantunya, sang raja akhirnya menyetujui rencana itu dan
memberi waktu kepadanya selama 40 hari. Segera setelah mendapatkan persetujuan
dari sang raja, pembantu itu menyuruh anak gadisnya untuk segera melaksakan
rencananya.
Sang
gadis mengerti apa yang harus diperbuat dan menyuruh ayahnya segera pergi
meninggalkan mereka berdua. Ternyata, hari-hari yang dilewati sang gadis
bersama sang pemuda sungguh di luar
dugaan. Sang pemuda tak bergeming dan sama sekali tidak tertarik dengan sang
gadis. Saat siang hari sang pemuda selalu berpuasa dan saat malam hari tiba,
dia selalu disibukkan dengan qiyamul lail (sholat malam). Hal ini berlangsung
terus menerus hingga mendekati habisnya waktu yang diberikan oleh sang raja.
Menyadari
waktu yang diberikan raja kepadanya hampir habis, ayah gadis itu datang untuk melihat
perkembangan rencananya.
Orang
itu bertanya kepada anak gadisnya:
Apa
saja yang sudah kamu lakukan bersama pemuda itu?
Sang
gadis menjawab:
Saya tidak
berbuat apa-apa selama bersama dia.
Sang
ayah kaget bukan kepalang dan bingung akan kegagalan rencananya yang sudah
tampak di depan mata, dia tidak tahu harus berkata apa pada raja nantinya.
Melihat
kegelisahan sang ayah, sang gadis mencoba memberikan solusi dengan mengajukan
ide agar sang ayah meminta waktu tambahan kepada sang raja, akan tetapi untuk
rencana kali ini sang gadis memberi syarat baru, yakni supaya diberikan tempat
yang lebih sepi dan jauh dari pantauan sang raja agar mereka lebih leluasa.
Sang
ayahpun akhirnya melaksanakan usulan anak gadisnya dan menyampaikannya kepada
sang raja. Mendengar hasil laporan perkembangan rencana pembantunya dulu dan permintaan
tambahan waktu dari sang gadis perayu, akhirnya sang rajapun menyetujuinya dan
memberikan waktu tambahan.
Mendapat
persetujuan sang raja, rencana kedua itupun segera dilaksanakan, mereka berdua
segera ditempatkan di daerah yang terpencil dan jauh dari pantauan sang raja.
Hari-hari
berlalu setelah rencana kedua ini dilaksanakan, ternyata apa yang dilakukan
sang pemuda tidak berubah, seperti biasanya dia tetap melaksanakan puasa di
siang hari dan qiyamul lail di malam hari.
Sampai
pada akhirnya tinggal beberapa hari saja waktu tambahan dari raja akan berakhir.
Karena sangat heran melihat kepatuhan sang pemuda dalam melaksanakan ibadah
saat mereka bersama dalam pengasingan, maka pada suatu malam sang gadis memberanikan
diri unutk bertanya kepada sang pemuda.
Sang
gadis:
Wahai pemuda,
saya selalu memperhatikanmu khusyuk mensucikan dan menyembah Tuhan yang nampaknya
begitu Agung bagimu, sehingga kamu sama sekali tidak tertarik untuk melakukan
selain itu bahkan tidak tertarik sama sekali untuk memdekati wanita cantik sepertiku, hal ini berbeda sekali dengan sikap
para pemuda pada umumnya. Maka dari itu, saya percaya dan meyakini kebenaran
ajaran agamamu serta saya berikrar untuk mengikuti ajaran agamamu itu dan
meninggalkan agama yang telah diajarkan oleh ayahku.
Mendengar
ikrar sang gadis, sang pemuda menanggapi pernyataan itu dengan bertanya guna
meyakinkan bahwa sang gadis memang benar-benar berikrar masuk agama Islam: Bagaimana caranya saya bisa melarikan
diri dari sini?
Sang
gadis menjawab:
Saya akan
mencarikan cara melarikan diri dari sini untukmu.
Tak
lama kemudian sang gadis pergi dan kembali dengan membawa seekor kuda untuk
mereka berdua melarikan diri dari tempat itu.
Ternyata
ikrar yang diucapkan gadis itu benar-benar dari hati, ketika malam tiba,
akhirnya gadis itu mau untuk mengikuti sang pemuda melarikan diri.
Hari
demi hari berlalu dalam pelarian, setiap pagi tiba, mereka selalu bersembunyi
agar tidak ditangkap oleh pasukan raja Rum, dan akan kembali melanjutkan
perjalanan saat malam hari tiba.
Hingga
akhirnya pada suatu malam di tengah pelarian, kuda yang mereka tumpangi
terjatuh karena mendengar suara yang mengagetkan. Saat terjatuh, tiba-tiba
muncul seorang malaikat dan dua orang laki-laki bersaudara. Malaikat itu
mengucapkan salam pada pemuda dan gadis tadi lalu berkata pada pemuda itu:
Allah
SWT telah mengutus kami untuk menikahkanmu dengan wanita ini, dan dua orang
bersaudara yang sedang bersamaku ini akan menjadi saksinya.
Singkat
cerita, pemuda dan gadis itupun akhirnya dinikahkan oleh malaikat tadi,
kemudian selang beberapa saat malaikat serta dua orang bersaudara itu kembali menghilang
dari pandangan.
Di
akhir pelarian, akhirnya sampai juga suami isteri baru ini di negara Syam (Sekarang Syiria), tempat dimana pemuda
tadi berasal dan merekapun berdua hidup dengan damai di sana.
Sumber:
Kitab Irsyadul ‘Ibad, Halaman 7, Percetakan al-Hidayah, Surabaya.

0 Response to "Keteguhan Iman Sang Ksatria Berkuda"
Posting Komentar